Awas! Bahaya Terlalu Banyak Mie Instan Bagi Kesehatan

by Ummi on December 31, 2015

Siapa yang tak suka dengan mie instan? Semua orang pasti suka dengan makanan kemasan yang satu ini. Selain sangat gampang dimasak dan tersedia dalam berbagai varian rasa, rasanya juga semakin lezat jika dilengkapi dengan topping yang tepat seperti bakso, udang, telur, atau ayam. Bahkan, anak-anak pasti suka jika disuguhi mie instan sebagai menu makannya. Para orangtua yang bekerja seharian, seringkali merasa bahwa mie instan merupakan menu yang cocok dan praktis untuk makanan anak mereka di malam hari, bahkan mereka sendiri juga menyukainya.

bahaya terlalu banyak mie instan

Selain semangkuk sup ayam hangat bisa jadi ramuan favorit untuk meredakan penyakit flu, mie instan kuah yang panas juga sangat populer dijadikan makanan saat kita sedang sakit dan tidak nafsu makan. Mie instan juga bisa menjadi cemilan yang sempurna di tengah malam saat kita merasa lapar atau menu yang praktis untuk bekal menu makan siang di sekolah bagi anak-anak. Memang, daya tarik dari mie instan tak ada duanya.

Ada lagi satu keunggulan yang dimiliki mie instan, mereka bisa diperoleh dengan harga yang lumayan terjangkau. Tak diragukan lagi, mie instan merupakan makanan utama bagi setiap anak kuliahan dan anak kos yang memiliki dana terbatas. Harga yang murah inilah yang juga menjadi alasan tingkat konsumsi mie instan yang tinggi. Tak jarang, setiap keluarga pasti akan membeli beberapa bungkus mie sekaligus saat sedang berbelanja.

Orang-orang di negara China, Jepang dan Indonesia adalah konsumen tertinggi dari mi instan di dunia menurut estimasi yang diterbitkan pada tahun 2015 oleh World Instant Noodle Association. Persepsi yang paling umum mengenai mie instan adalah mereka tidak terlalu menyehatkan bagi tubuhm namun mereka juga tidak terlalu membahayakan juga. Meski begitu, jika mie instan dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus dari waktu ke waktu, maka mereka bisa jadi sangat berbahaya bagi kesehatan.

Mie instan sebenarnya sama sekali tidak memiliki nilai gizi. Setiap aspek dari proses produksi mereka, mulai dari komposisi dasar hingga langkah-langkah yang diambil untuk menyajikannya, penuh dengan faktor risiko kesehatan yang utama bagi konsumen. Berlawanan dengan kepercayaan yang populer, bahwa menaburi mie instan Anda dengan sayuran dapat meningkatkan nilai gizi mereka, namun itu tidak cukup untuk melawan efek kesehatan negatif dan secara ajaib bisa mengubahnya menjadi makanan kesehatan. Berikut ini akan kami ulas tentang mengenai bahaya dari terlalu banyak mengkonsumsi mie instan bagi kesehatanmu :

Mengandung bahan pengawet yang berbahaya

Butylated hydroxyanisole (BHA) dan t-Butylhydroquinone (TBHQ) adalah pengawet utama yang ditambahkan ke dalam mie instan untuk mencegah bau tengik dan menjaga mereka bisa digunakan lagi hingga beberapa bulan kedepan. BHA akan menggandakan dan TBHQ meniga kali lipatkan umur simpan dari mie instan, menurut sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of American Oil Chemist Society.

Meskipun US Food and Drug Administration (FDA) menyetujui konsumsi tingkat wajar dari TBHQ, namun paparan konstan jangka panjang untuk pengawet ini bisa saja terbukti sebagai karsinogenik (zat pemicu kanker), menurut sebuah studi tahun 2005 yang diterbitkan dalam Drug Metabolism and Disposition. Menurut American Cancer Society, BHA adalah “layak diantisipasi” sebagai karsinogen manusia.

The European Mission juga memasukkan BHA dalam daftar bahan kimia dengan kemungkinan efek mengganggu endokrin. Sistem endokrin bertanggung jawab untuk produksi dan regulasi hormon, dan gangguan dari endokrin cenderung menyebabkan beberapa efek perkembangan, kekebalan tubuh, saraf dan reproduksi yang merugikan.

Tidak bisa dicerna dengan mudah

Hal ini jauh lebih berbahaya daripada kedengarannya. Para peneliti di Massachusetts General Hospital menggunakan kamera yang sangat kecil untuk mengamati efek dari mie pada saluran pencernaan lebih dari 32 jam. Video tersebut mengungkapkan bahwa perut bekerja keras, berkontraksi bolak-balik, untuk dapat menghancurkan mie. Mie akhirnya tercerna untuk waktu yang lama dan sangat membuat tegang saluran pencernaan.

Selain itu, retensi mie instan dalam saluran pencernaan yang begitu lama bisa berarti kamu akan mengalami overexposed (mendapat paparan berlebihan) terhadap bahan kimia beracun dan pengawet, seperti TBHQ dan BHA yang ditemukan di dalam mie, yang bisa terbukti sebagai karsinogenik. Paparan jangka panjang untuk TBHQ juga dapat menyebabkan asma, kecemasan dan diare pada sebagian orang. Hal ini juga dapat berpengaruh buruk pada hati dan organ reproduksi.

Meningkatkan resiko penyakit jantung

“Sindrom metabolik” didefinisikan sebagai sekelompok gejala yang meningkatkan kemungkinan seseorang tertular penyakit jantung, mengalami stroke dan diabetes. Gejala-gejala ini termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, tingkat trigliserida tinggi, gula darah tinggi dan peningkatan lemak perut. Wanita yang mengkonsumsi mie 2 atau 3 kali seminggu dilaporkan mengalami peningkatan prevalensi sindrom metabolik, menurut sebuah studi 2014 yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition.

Lebih jauh lagi, ‘deep-frying’ adalah salah satu langkah yang digunakan dalam proses produksi sebagian besar mie instan. Hal ini akan semakin membuat mie menjadi jenuh dengan kelebihan lemak dari minyak, sehingga menjadi faktor risiko yang lebih besar untuk penyakit jantung. Mie yang dikeringkan dengan udara dan melewatkan proses deep frying, bisa membuat mereka menjadi alternatif yang relatif lebih sehat.

Tinggi Lemak Jenuh

Sementara memakan segala jenis lemak secara berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas, lemak jenuh juga sangat berbahaya karena mereka akan menaikkan kadar kolesterol jahatmu (LDL) dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan untuk menghindari pola makan yang tinggi lemak jenuh. Kadar kolesterol LDL, sensitivitas insulin dan kadar lemak perut meningkat dalam subjek yang beralih dari lemak jenuh ke lemak tak jenuh ganda, menurut sebuah studi tahun 2002 yang diterbitkan dalam Diabetologia.

Tergantung pada proses dari sebuah pabrik mie instan, jumlah lemak jenuh yang ditemukan dalam berbagai merek mi instan mungkin bisa berbeda-beda. Mie instan yang digoreng dalam minyak sawit, lemak babi atau mentega sebelum dikemas cenderung memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi. Bumbu beberapa mie instan juga mungkin mengandung minyak yang tinggi lemak jenuh. Untuk itu, periksa label gizi untuk mempelajari jumlah yang tepat dari lemak jenuh dalam merek mie instan kesukaanmu dan perhitungkan risiko kesehatannya secara akurat.

*Lanjutannya, klik page 2 yang ada di bawah

Page: 1 2