Bahan Kosmetik Beracun Yang Berbahaya Bagi Tubuh

by Siti Eka Kurniyati on December 30, 2015

Kita biasanya hanya terpaku pada mengawasi asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh yang mungkin bisa membahayakan bagi kesehatan kita. Namun pertanyaannya adalah, apakah makanan hanyalah satu-satunya produk rumah tangga yang bisa memaparkan bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh kita?

Kenyataannya, efek berbahaya dari bahan kimia juga bisa ditemukan pada kosmetik dan produk kecantikan lain. Jadi, ada kebutuhan mendesak lain yang harus kita lakukan, yakni mewaspadai label kemasan saat akan membeli kosmetik atau produk kecantikan lain seperti halnya saat kita membaca label makanan kemasan. Karena, mereka juga banyak mengandung bahan kimia berbahaya yang bisa saja diserap oleh tubuh kita setiap harinya.

bahan kosmetik berbahaya

Untuk itu, berikut akan kami ulas tentanga Bahan Kimia Beracun yang terdapat dalam kosmetik dan produk kecantikan lain agar bisa kamu teliti saat akan membelinya :

Phthalates

Phthalates bisa memiliki beragam jenis nama yang berbeda, seperti dibutyl phthalate atau DBP yang biasa terdapat dalam produk cat kuku, diethyl phthalate atau DEP yang biasa terdapat dalam parfum dan losion, dan dimethyl phthalate atau DMP yang biasa terdapat pada hair spray.

Menurut pakar industri kosmetik, penggunaan phthalates hanya akan berbahaya jika dalam dosis tinggi dan para konsumen terpapar jumlah phthalates yang sangat sedikit melalui produk kecantikan. Namun meski begitu, para pemerhati lingkungan berpendapat bahwa paparan phthalates yang berulang melalui kosmetik, bahkan dalam jumlah rendah sekalipun, tetaplah sangat berbahaya.

Phthalates adalah tipe pengganggu kelenjar endokrin. Ini berarti bahwa paparan terus-menerus dari bahan ini bisa ikut berbaur dengan hormonmu, menyebabkan cacat lahir, pubertas dini, gangguan reproduksi dan perkembangan lainnya, resistensi insulin dan kanker. Paparan hair spray yang mengandung phthalates, serta media lain yang terpapar phthalate lainnya, baik di tempat kerja atau rumah selama masa kehamilan diidentifikasi bisa berkontribusi langsung terhadap hipospadia (cacat lahir pada bayi laki-laki) di antara anak-anak, menurut sebuah studi 2009 yang diterbitkan dalam Environmental Health Perspectives.

Catatan : Tidak semua produk mencantumkan kandungan phthalate pada label mereka.

Hydroquinone

Hydroquinone adalah zat utama yang digunakan dalam produk pemutih kulit, seperti krim, pemutih, pelembab dan pembersih. Hal ini juga digunakan dalam kondisioner rambut dan produk pelapis kuku dan juga dapat ditemukan dalam pembersih wajah dan pelembab yang tidak menawarkan kemampuan pemutih kulit.

Uni Eropa telah melarang penggunaan bahan kimia ini. FDA telah melabeli hydroquinone sebagai karsinogen (pemicu kanker) potensial pada tahun 2006 dan membatasi ketersediaannya dalam bentuk produk kecantikan yang dijual bebas dipasaran. Saat ini, konsentrasi 2 persen tepat dari hydroquinone masih diperbolehkan dalam produk kecantikan yang beredar di Amerika Serikat.

Hydroquinone bisa menurunkan dan mengurangi produksi melanin dalam kulit, sehingga meningkatkan paparan kulit terhadap sinar UVA dan UVB matahari yang berbahaya. Hal ini secara signifikan meningkatkan resiko kanker kulit.

Ada seorang wanita berusia 50 tahun yang mengalami ochoronosis, sebuah penyakit langka yang memiliki cirri-ciri kulit yang menjadi tebal dan berwarna biru keabu-abuan, setelah dilaporkan menggunakan 2 hingga 5 % hydroquinone secara rutin selama beberapa tahun, menurut sebuah studi tahun 2012 yang terbit di Indian Journal of Dermatology.

Paraben

Methylparaben (MP), propylparaben (PB) & butylparaben (BP) adalah paraben yang paling umum digunakan sebagai pengawet dalam kosmetik, tabir surya, shampoo, pasta gigi, gel pecukur, pelembab, obat oles dan solusi semprot untuk tanning (menggelapkan kulit).

Zat kimia ini berpotensi mengganggu kelenjar endokrin dan terkait dengan toksisitas reproduksi, imunotoksisitas dan neurotoksisitas. Plus, produk yang mengandung MP, jika diterapkan pada kulit, dapat bereaksi dengan ultraviolet (UV) sinar matahari dan menyebabkan kematian sel, kerusakan DNA dan mengakibatkan penuaan kulit, menurut sebuah studi 2006 yang diterbitkan di Toxicology.

Meskipun tidak ada hubungan langsung antara paraben dan kanker yang telah ditetapkan, namun efek racun dari MP yang digabungkan dengan sinar UV dapat menjadi pemicu kanker, menurut sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam Chemical Research in Toxicology. Selanjutnya, sejumlah besar paraben ditemukan pada 20 tumor payudara, dengan jumlah MP sekitar 62 persen dari total ekstrak paraben, menurut sebuah studi tahun 2004 yang diterbitkan dalam Journal of Applied Toxicology. Paraben juga dapat memicu gatal, kemerahan dan dermatitis pada beberapa orang yang mungkin memiliki alergi paraben.

*Lanjutannya, klik page 2 yang ada di bawah

Page: 1 2