Manfaat Menguasai Dua Bahasa (Bilingual)

by Ummi on November 2, 2015

Di era globalisasi seperti sekarang ini, semakin menuntut kita untuk bisa berhadapan dan berkomunikasi dengan baik dengan berbagai jenis orang dari berbagai suku bangsa, bahkan orang dari manca negara. Itulah mengapa, kita sebaiknya bisa menguasai bahasa asing, tidak cuma bahasa ibu kita saja. Bisa berbahasa dalam dua bahasa (bilingual) tidak hanya memberikan salah satu manfaat praktis yang jelas dalam menghadapi dunia globalisasi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai menemukan bukti bahwa keuntungan dari bilingualisme ternyata lebih mendasar daripada sekedar mampu untuk berkomunikasi dengan jangkauan orang yang lebih luas. Kemampuan berbahasa asing memiliki pengaruh yang mendalam pada otak manusia, meningkatkan keterampilan kognitif yang tidak terkait dengan bahasa, dan bahkan bisa membentengi melawan penyakit dementia (pikun) daalam usia lanjut.

manfaat bilingual

Pandangan tentang bilingualisme sekarang ini sangat jauh berbeda dari pemahaman tentang bilingualisme di abad ke-20. Dulu, para peneliti, pendidik, dan pemegang kebijakan menganggap bahwa bahasa asing bisa menjadi suatu gangguan (interferensi), dan bisa menghambat perkembangan intelektual dan akademik anak. Memang, mereka tidak keliru tentang bilingual bisa menjadi pengganggu: ada banyak bukti bahwa didalam otak seseorang yang menguasai dwi bahasa, dua sistem bahasanya akan sama-sama aktif meski ia hanya menggunakan satu bahasa saja, sehingga menciptakan situasi di mana satu sistem akan menghalangi sistem yang lain. Namun gangguan ini, dimana peneliti masih mencari tahu, tidak terlalu menjadi cacat, malah justru sebagai berkah yang tersembunyi. Hal tersebut akan memaksa otak untuk menyelesaikna konflik internal dan memberikan pikiran latihan yang bisa memperkuat otot kognitif.

Orang yang bilingual, tampaknya lebih mahir dalam memecahkan beberapa jenis teka-teki mental. Dalam sebuah studi di tahun 2004 yang dilakukan oleh psikolog Ellen Balystok & Michelle Martin-Rhee, mereka meneliti dua kelompok anak pra sekolah, satu kelompok merupakan bilingual, dan kelompok yang lain adalah monolingual (hanya menguasai satu bahasa). Pada tugas pertama, anak-anak harus memilah bentuk berdasarkan warna, menempatkan lingkaran biru di keranjang yang ditandai kotak biru dan meletakkan kotak merah di keranjang yang ditandai lingkaran merah. Kedua kelompok melakukan tugas ini dengan mudah dan sebanding. Berikutnya, anak-anak diminta untuk mengurutkan berdasarkan bentuk, namun lebih menantang karena mereka harus menempatkan gambar dalam keranjang yang ditandai dengan warna yang saling bertentangan. Akhirnya, kelompok bilingual mampu lebih cepat menyelesaikan tugas ini.

Bukti kolektif dari sejumlah studi tersebut menunjukkan bahawa pengalaman bilingual mampu meningkatkan kemampuan otak yang disebut dengan ‘executive function’, sistem komando yang mengarahkan proses perhatian yang kita gunakan untuk perencanaan, memecahkan masalah, dan melakukan berbagai tugas yang menuntut mental lainnya. Proses ini juga termasuk mengabaikan gangguan untuk tetap bisa fokus, mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal yang lain, dan mempertahankan informasi dalam pikiran, seperti mengingat urutan arah saat sedang mengemudi.

Perbedaan utama antara bilingual dan monolingual mungkin lebih mendasar, yakni : kemampuan tinggi untuk memonitor lingkungan. “Orang yang menguasai dwi bahasa harus beralih bahasa cukup sering, karena mungkin kamu berbicara dengan ayahmu dalam satu bahasa dan dengan rekan kerjamu dalam bahasa yang lain,” ujar seorang peneliti di University of Pompeu Fabra di Spanyol.  Sehingga hal ini membutuhkan pelacakan perubahan disekitarmu dengan cara yang sama yang kita gunakan saat memonitor lingkungan saat kita berkendara. Dalam sebuah penelitian yang membandingkan antara bilingual Jerman-Italia dengan monolingual Italia pada tugas-tugas monitoring (pemantauan), para peneliti menemukan bahwa subjek bilingual tidak hanya lebih baik dalam menjalankan tugasnya, namun juga melakukannya dengan melibatkan aktivitas otak yang lebih sedikit dalam proses pemantauan, sehingga mereka lebih efisien dalam hal tersebut.

Dalam sebuah studi tahun 2009 yang dipimpin oleh Agnes Kovacs dari the International School for Advanced Studies di Trieste, Italia, kelompok bayi berusia 7 bulan yang dibesarkan dengan dua bahasa sejak lahir dibandingkan dengan rekan-rekannya yang dibesarkan dengan satu bahasa. Dalam sebuah set awal percobaan, para bayi disajikan dengan isyarat audio dan kemudian diperlihatkan dengan suatu boneka di salah satu sisi layar. Kedua kelompok bayi tersebut belajar untuk melihat sisi layar dan mengantisipasi pergerakan boneka. Namun di set percobaan selanjutnya, ketika boneka muncul dalam arah yang berlawanan dari layar, bayi yang terbiasa dengan lingkungan bilingual dengan cepat mampelajari untuk merubah pandangan antisipatif mereka ke arah yang baru, sementara bayi yang lainnya tidak. Jadi, tak ada salahnya bukan, jika kamu mulai mempelajari bahasa asing dari sekarang?