≡ Menu
werno-werno.com

Mengapa Kamu Memilih Pasangan Dengan Tipe Yang Selalu Sama ?

Kalau bicara soal berkencan dan hubungan asmara, kamu mungkin punya tipe pasangan tersendiri. Bisa saja kamu tertarik dengan seorang musisi atau seniman, atau mungkin kamu akan kepincut dengan tipe orang jenius dan kutu buku. Kamu munngkin selalu terpesona dengan sosok wanita berambut panjang, berkulit putih putih, atau pasangan dengan warna mata cokelat? Setelah memiliki pengalaman cinta bertahun-tahun, kamu mungkin sudah tahu seperti apa ‘tipemu’ yang sebenarnya.

Lalu, bagaimana kamu bisa mendapatkan patokan tipe yang seperti itu? Ini bukan cuma masalah selera atau ketidaksengajaan saja. Ada beberapa komponen psikologi dan sains tertentu yang bisa memberikan andil besar pada pasangan jiwa yang kamu pilih. Ingin tahu apa alasan yang membuatmu selalu memilih tipe pasangan yang sama? Simak ulasannya berikut ini :

tipe pasangan

1. Teman dan keluarga

“Apa kamu sudah punya pacar?” mungkin ini pertanyaan no. 1 yang selalu diajukan teman, keluarga atau rekan kerjamu jika kamu masih single. Lalu, tentu mereka akan bertanya seperti apa sosok pacarmu. Katie Chen, sorang Personal Match maker mengatakan “Karena teman dan keluargamu selalu ikut campur dan memberikan pendapatnya, mereka akan membentuk sosok seseorang yang kamu pikir adalah tipemu.”

Misalnya saja, kamu punya gebetan wanita karir yang mungkin terlalu sibuk bagimu.Sedangkan, keluargamu berasal dari kalangan yang tradisional dan sederhana. Keluargamu akan berkata, “Kenapa kamu tidak memilih gadis baik-baik dan manis yang akan meluangkan banyak waktu untukmu?” jika kamu setuju dengan pendapat mereka dan menerapkannya pada dirimu, maka hal ini akan membentuk tipe cewekmu.

2. DNA

Beberapa gen yang mirip bisa mengayunkanmu ke pasangan tertentu. Saat kamu memilih pasangan berdasarkan pendidikan, kelas sosial, atau ras yang sama, itu disebut dengan pencocokan assortive (pergaulan). Seorang peneliti perilaku manusia, Benjamin Domingue dan koleganya di University of Colorado Boulder memimpin sebuah penelitian untuk menemukan apakah pencocokan assortif juga bisa terjadi di level genetika. Mereka mengumpulkan 28 pasangan dengan jenis kelamin dan ras yang berlainan. setelah menganalisa data dari hampir 2 juta titik di setiap genom peserta, mereka membandingkan genom peserta dengan genom pasangan hidupnya masing-masing. Lalu mereka juga secara acak memasangkan genom tersebut dengan milik orang lain. Hasilnya, mereka menemukan bahwa orang cenderung memiliki banyak kemiripan genetis dengan pasangan hidupnya, jika dibandingkan dengan orang yang dipasangkan secara acak.

*Lanjutannya, klik page 2 yang ada di bawah

0 comments… add one

Leave a Comment