Menguak Mitos Tentang Gula

by Ummi on November 13, 2015

Gula! Zat yang berasa manis ini selalu dipersalahkan untuk segala sesuatu yang buruk bagi tubuh, mulai dari obesitas, diabetes, stroke, ginjal, hingga penyakit jantung. Namun pertanyaannya, apakah gula memang benar-benar buruk? Apakah tidak ada sesuatu yang bisa menebus kesalahan dari butiran kecil nan manis ini? Apa memang gula berbahaya bagi tubuh? Atau banyak dari apa yang kita dengar selama ini adalah suatu kesalahpahaman? Penasaran, simak ulasan lengkap mengenai beberapa mitos gula berikut ini :

kebenaran mitos gula

Gula bisa menyebabkan obesitas

Banyak oranag menyamakan obesitas dengan gula : permen, es krim, cake, roti, donat, dan yang lainnya. Jika kamu gemuk, pemikirannya tentu hal itu dikarenakan kamu makan banyak makanan penutup yang manis-manis. Mereka yang sedikit lebih berpengalaman di bidang gizi memperingatkan kita untuk tidak terlalu banyak makan makanan yang bertepung (seperti kentang, nasi, pasta, sereal) karena tubuhmu akan mengubah pati menjadi gula dan kamu bisa makan tumpukan gula dalam jumlah yang banyak. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena jika itu benar, maka orang-orang yang terbiasa makan nasi seperti orang Jepang dan Indonesia, atau biasa makan pasta seperti orang Italia akan menjadi salah satu penduduk tergemuk di dunia. Tapi coba tebak? Faktanya, justru mereka menjadi salah satu penduduk berbadan kurus di dunia.

Inilah yang sebenarnya terjadi. Jika kamu banyak memakan makanan yang mengandung gula, seperti cake dan aneka kue, dan minum minuman soda bergula dan jus, kamu akan mengalami kenaikan berat badan. Namun hal tersebut dikarenakan kamu menelan banyak sekali kalori, bukan karena gulanya yang pada dasarnya membuatmu gemuk. Jika jumlah total keseluruhan kalori yang kamu makan masih dalam cakupan yang sehat, memakan gula tidak akan membuat perutmu gendut.

Gula bisa menyebabkan gigi berlubang

Jika dokter gigimu menyalahkan bahwa yang menyebabkan gigimu berlubang adalah karena terlalu banyak makan permen, maka dia tidak sepenuhnya keliru. Jika gigi terlibat kontak dengan makanan dan minuman yang bergula, gigi berlubang bisa menjadi akibatnya. Namun hal ini hanya terjadi jika sesuatu yang bergula menetap di gigimu untuk jangka waktu yang lama. Lebih jauh lagi, banyak pula jenis makanan yang bisa merusak gigi (tidak hanya yang bergula saja) jika berada dalam kontak dengan gigi untuk waktu yang lama (misalnya buah, roti, atau oatmeal). Bahkan sayuran sehat sekalipun juga dapat mendatangkan malapetaka pada gigimu jika terlalu lama menetap di gigi.

Sebuah zat yang bernama plak adalah yang menyebabkan gigi berlubang. Plak mulai terbentuk pada gigimu pada saat kamu sedang makan atau minum sesuatu. Jika kamu tidak segera menyingkirkan sisa makanan dan minuman ini, maka pada akhirnya akan mengikis enamel gigi, membentuk lubang kecil tak kasat mata yang merupakan awal dari gigi berlubang. Untuk mencegah gigi berlubang, maka yang terbaik adalah dengan segera menyikat gigimu (setidaknya setelah waktu 30 menit) sehabis makan. Bahkan hanya dengan membilas mulutmu dengan air juga bisa membantu. Jika kamu makan makanan yang mudah tersangkut di gigi, seperti kismis, ayam, popocorn, atau sereal kering, maka kamu perlu lebih lama dan merata lagi dalam menyikat dan melakukan flossing pada gigimu.

Gula bisa menyebabkan Diabetes

Sala satu mitos gula yang paling umum adalah bahwa hal itu bisa menyebabkan diabetes. Kesalahpahaman ini terjadi karena kadar gula dalam darah penderita Diabetes seringkali sudah menjadi rusak, sehingga mereka harus mengawasi asupan gulanya. Namun secara umum, tidak ada penyebab langsung dan akibat antara konsumsi gula dan perkembangan Diabetes, dengan adanya satu pengecualian.

Jadi apa pengecualian untuk hubungan antara gula dan diabetes? Orang yang secara teratur banyak minum minuman manis (minuman buah dan soda yang dipermanis dengan gula) lebih mungkin untuk mengembangkan Diabetes tipe 2 (tipe diabetes di mana pankreas masih bisa memproduksi insulin namun tidak cukup atau tidak bekerja dengan baik yang sering terjadi pada orang yang kelebihan berat badan, kurang aktif bergerak dan suka makan tinggi kalori). Memang, kebanyakan orang yang menenggak minuman manis adalah orang yang  kelebihan berat badan dan makan dengan pola makan buruk, dua faktor yang dapat menyebabkan diabetes tipe 2, tetapi studi menunjukkan bahkan mereka yang langsing dan makan sehat sekalipun juga lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes jika mereka banyak minum minuman yang manis.

*Lanjutannya, klik page 2 yang ada di bawah

Page: 1 2