Penyebab Dan Cara Atasi Ketindihan Saat Tidur

by Ummi on February 24, 2017

Apa kamu pernah mengalami saat sedang tidur nyenyak, tiba-tiba kamu bangun dan kamu tidak bisa menggerakkan otot-ototmu sama sekali. Kedengarannya menakutkan bukan! Tapi itu sebuah pengalaman yang banyak orang alami dalam beberapa titik di hidup mereka. Fenomena aneh ini dikenal sebagai sleep paralysis atau dalam istilah lokal disebut ‘kelindihan’ atau ‘ketindihan’, di mana seorang individu tidak bisa bergerak, berbicara atau bereaksi untuk sesaat ketika tidur atau bangun. Ini adalah keadaan transisi antara terjaga dan tidur, yang sering disertai dengan halusinasi.

Halusinasi, seperti kehadiran seseorang di kamar atau seseorang duduk di atas dadamu, umum terjadi dan dapat membuat sulit bagi seseorang untuk bernapas. Pengalaman fisik seperti ada arus kuat bergerak melalui tubuh bagian atas juga umum. Ketindihan saat tidur relatif umum terjadi, menurut sebuah Ulasan sistematis 2011yang diterbitkan dalam Sleep Medicine. Ulasan ini menganalisis 35 studi yang melaporkan tingkat kejadian ketindihan saat tidur seumur hidup yang dialami lebih dari 36.000 peserta secara total.

Para peneliti menemukan bahwa 7,6 persen dari populasi umum yang mengalami ketindihan saat tidur, naik menjadi 28,3 persen pada kelompok yang berisiko tinggi, seperti siswa yang memiliki pola tidur yang terganggu. Di antara orang-orang yang menderita gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi, 31,9 persen dari mereka pernah mengalami episode ketindihan saat tidur.

Penelitian ini menyoroti akan kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut tentang ketindihan untuk menentukan dampaknya pada keadaan fisik dan emosional individu. Juga, hubungannya dengan kondisi medis kejiwaan dan lainnya yang harus dianalisa lebih lanjut.

Kapan ketindihan bisa terjadi ?

Biasanya, ketindihan akan terjadi dalam dua waktu yang tertentu selama siklus tidur.

• Ketika kamu tertidur nyenyak, yang dikenal sebagai kelumpuhan tidur hypnagogic atau predormital. Ketika kamu tertidur pulas, tubuhmu perlahan-lahan rileks dan kamu mungkin memperhatikan bahwa kamu tidak bisa bergerak atau berbicara.

• Ketika kamu dalam kondisi bangun, yang dikenal sebagai kelumpuhan tidur hypnopompic atau postdormital. Selama tidur, tubuhmu bergantian antara kondisi tidur REM (tidur bermimpi) dan NREM (tidur-tidur ayam). Pada akhir NREM, kamu bergeser ke tidur dengan REM, di mana mata bergerak cepat tapi seluruh tubuh tetap sangat santai. REM adalah bagian terdalam dari siklus tidur ketika otakmu memiliki mimpi yang hidup. Pada saat ini, otot-otot tubuhmu pada dasarnya dimatikan sehingga kamu tidak bertindak keluar dari mimpi dengan tubuhmu. Jika kamu bangun sebelum siklus REM selesai, maka kamu menjadi sepenuhnya sadar tapi tubuhmu masih dalam modus tidur REM, meninggalkanmu tidak bisa bergerak secara bebas.

Jenis halusinasi apa saja yang terjadi dalam ketindihan ?

Tiga jenis halusinasi dapat terjadi selama kelumpuhan tidur, menurut sebuah studi tahun 1999 yang diterbitkan dalam Consciousness and Cognition.

Incubus: Pada tipe ini, orang merasa tekanan kuat di dada mereka dan merasa mereka tidak bisa bernapas. Di sini, tubuh masih dalam modus pernapasan REM.
Intruder (penyusup) : Di sini, orang mengalami perasaan kehadiran, rasa takut, dan halusinasi visual dan auditori. Hal ini digambarkan sebagai sebuah “kondisi sangat waspada dari otak tengah”, di mana orang mungkin menyadari bahkan dari rangsangan terkecil sekalipun.
Pengalaman tubuh yang tidak biasa: Pada tipe ini, orang memiliki pengalaman out-of-body seperti terbang atau mengambang. Di sini, berbagai wilayah otak aktif pada saat orang tersebut terbangun.

Siapa saja yang bisa mengalami ketindihan ?

Menurut American Academy of Sleep Medicine, orang mengalami kelumpuhan tidur untuk pertama kalinya antara usia 14 dan 17 tahun. Hal ini dapat mempengaruhi pria dan wanita dari semua kelompok umur dan diperkirakan terjadi di antara 5 sampai 40 persen orang . Selain itu, sebuah studi 2015 yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research mencatat bahwa kelumpuhan tidur ini biasanya diwariskan. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk sampai ke sebuah kesimpulan yang pasti.

Penyebab ketindihan

Beberapa faktor risiko yang umum terkait dengan ketindihan adalah:
• tidur yang tidak benar.
• perubahan jadwal tidur yang sering.
• masalah mental, seperti kecemasan, stres tinggi atau gangguan bipolar.
• predisposisi genetik.
• Tidur dalam posisi telentang (di punggung).
• Masalah tidur, seperti narkolepsi atau kram kaki di malam hari.
• Penggunaan obat tertentu.
• Penyalahgunaan narkoba.

Apakah ketindihan bisa dicegah atau diobati ?

Ini bisa sulit untuk mengobati atau mencegah ketindihan saat tidur, karena hal tersebut terkait dengan faktor keturunan dan terkait dengan sejumlah masalah besar tidur dan kesehatan lainnya. Namun, ada banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu mengatasi masalah ini.

• Cobalah untuk mengurangi dan mengelola stres dalam hidupmu.
• Berolahraga secara teratur, tetapi tidak sebelum tidur.
• Dapatkan istirahat yang cukup dan menjaga jadwal tidur yang teratur.
• Jangan pernah minum obat tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dulu.
• Jika kamu memiliki gangguan mental, seperti kecemasan atau depresi, minumlah obat yang diresepkan oleh dokter secara teratur.
• Hindari tidur terlentang. Cobalah untuk tidur di bagian sisi tubuh untuk mengurangi terjadinya ketindihan tidur.
• Untuk keluar dari ketindihan, cobalah untuk menggerakkan jari atau jari kaki dan fokus pada hal itu. Begitu otot bergerak, maka ketindihan akan buyar.

Ingat, ketindihan adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Jika itu terjadi, itu adalah normal dan dapat dikelola dengan langkah-langkah yang tepat dan tindakan pencegahan.