Risiko Kesehatan Orang Yang Obesitas

by Ummi on May 28, 2016

Apakah kamu termasuk salah seorang yang mengalami obesitas? Jika iya, maka kamu sedang berada dalam risiko besar menderita berbagai macam kondisi kesehatan serius. Apa sih obesitas itu? Seseorang bisa dikategorikan obesitas jika BMI (massa indeks tubuh) berada di angka lebih dari 30 poin. Lalu bagaimana cara menghitung BMI? BMI bisa kita dihitung dengan menggunakan rumus yang sederhana berikut ini : Berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m2).

Cara Menghitung Indeks Body Mass Index (BMI):

Contoh : Berat badan kamu saat ini adalah 60 kg sedangkan tinggi tubuhmu adalah 170 cm (1.7 m2). Maka BMI milikmu  adalah 60 : 1.7 m2 (1.7 x 1.7) = 20. Dengan nilai BMI 20, maka kamu belum termasuk dalam kategori obesitas. Untuk bisa mengetahui kamu termasuk dalam kategori yang mana, berikut adalah klasifikasi BMI menurut WPRO (WHO Western Pacific Region) tahun 2000 yang telah disesuaikan untuk pengukuran BMI orang-orang di wilayah Asia termasuk Indonesia :

Kategori BMI (kg/m2) Risiko Penyakit Penyerta
Underweight < 18.5 kg/m2 Rendah (tetapi risiko terhadap masalah-masalah klinis lain meningkat)
Batas Normal 18.5 – 22.9 kg/m2 Rata rata
Overweight: > 23
At Risk 23.0 – 24.9 kg/m2 Meningkat
Obese I 25.0 – 29.9kg/m2 Sedang
Obese II > 30.0 kg/m2 Berbahaya

risiko obesitas

Beberapa alasan penyebab obesitas adalah diet yang tidak sehat, kurang tidur, gaya hidup tidak aktif, genetika, usia, kehamilan dan perubahan hormonal dalam tubuh. Obesitas adalah masalah serius yang dapat memiliki efek negatif pada banyak sistem dalam tubuh dan meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan. Berikut adalah beberapa risiko kesehatan yang bisa diderita oleh orang yang obesitas :

Diabetes tipe 2

Diabetes adalah gangguan metabolik di dalam tubuh yang bisa berupa ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi insulin yang memadai untuk meregulasi kadar glukosa darah atau insulin yang telah diproduksi tidak mampu bekerja dengan efektif.

Obesitas bisa meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 2. Sebuah studi 2011 yang diterbitkan dalam Diabetes Care menyetujui adanya hubungan antara obesitas dan diabetes tipe 2 dan menekankan untuk mencegah obesitas dalam rangka perawatan diabetes tipe 2.

Sebuah laporan 2014 oleh Public Health England menyatakan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas adalah faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi untuk diabetes tipe 2. Menurut laporan itu, 90 persen orang dewasa dengan diabetes tipe 2 di Inggris menderita kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2014.

Sementara obesitas meningkatkan risiko diabetes, diabetes tipe 2 sendiri adalah penyebab utama dari kematian dini, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit ginjal dan kebutaan. Untuk mengurangi risikomu terkena diabetes tipe 2, cobalah untuk menurunkan berat badan, makan diet yang seimbang, mendapatkan tidur yang cukup dan lebih banyak berolahraga.

Tekanan darah tinggi

Menurut CDC, sekitar 1 dari 3 orang dewasa di AS, atau sekitar 70 juta orang, menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi. Setiap kali jantung berdetak, jantung akan memompa darah melalui arteri ke seluruh tubuhmu. Tekanan darah yang berada di angka 120/80 mm Hg dianggap normal.

Jika angka atas secara konsisten berada di 140 atau lebih tinggi dan angka bawah adalah 90 atau lebih tinggi, maka kamu dianggap menderita tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung, dan telah ditemukan akan meningkat seiring dengan berat badan dan usia.

Sebuah studi 2009 yang diterbitkan dalam Journal Ochsner menyoroti hubungan antara obesitas dan hipertensi. Studi ini menekankan bahwa penurunan berat badan, meskipun itu sulit, harus menjadi barisan pertama terapi untuk mengobati hipertensi. Meski obesitas dikaitkan dengan hipertensi, kita juga dapat menderita hipertensi karena beberapa alasan lain, seperti genetik, minum alkohol berlebihan, asupan garam yang tinggi, kurang olahraga, stres, dan penggunaan pil KB.

Apapun alasannya di balik tekanan darah tinggi, cobalah untuk menurunkan berat badan, mengikuti DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) diet, menghindari diet yang tinggi sodium, minum secukupnya dan jadikanlah olahraga sebagai bagian dari rutinitas harianmu.

Kolesterol Tinggi

Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas lebih mungkin untuk menderita kolesterol tinggi, suatu kondisi di mana kadar lipoprotein low-density (LDL atau kolesterol ‘buruk’) dan trigliserida terlalu tinggi, dan tingkat lipoprotein densitas tinggi (HDL atau kolesterol’ baik’) terlalu rendah. Tingkat abnormal dari lemak darah ini merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner. Untuk itu, kamu harus berusaha mempertahankan ukuran normal kadar kolesetrol.

Selain dari obesitas, merokok, minum berlebihan, peningkatan usia, genetik, diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit ginjal atau hati juga memainkan peran utama dalam kolesterol tinggi. Untuk melawan obesitas dan kolesterol tinggi, cobalah untuk menurunkan berat badan. Sebuah studi 2007 yang diterbitkan dalam Obesity (Silver Spring) melaporkan bahwa penurunan berat badan yang berkelanjutan merupakan metode yang efektif untuk membalikkan penurunan kadar HDL pada orang gemuk. Lebih spesifiknya lagi, penurunan berat badan yang dicapai melalui latihan sangat efektif untuk meningkatkan tingkat HDL dibandingkan dengan melalui diet.

Penyakit jantung & stroke

Dengan meningkatnya BMI, maka ada juga peningkatan risiko penyakit jantung. Obesitas menyebabkan penumpukan plak (zat lilin) di dalam arteri koroner yang mensuplai darah yang kaya oksigen ke jantung. Plak menghalangi aliran darah ke jantung. Selain itu, obesitas dapat menyebabkan atau berkontribusi untuk perubahan dalam struktur dan fungsi jantung.

Plus, obesitas juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, di mana kedua kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit jantung atau stroke. Sebuah studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Circulation melaporkan bahwa obesitas adalah gangguan metabolik kronis dan berhubungan dengan penyakit kardiovaskular dan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.

Sebuah studi 2008 yang diterbitkan dalam Journal of American Board of Family Medicine mencatat bahwa obesitas mempengaruhi sistem kardiovaskular secara langsung dalam banyak cara, selain efek tidak langsung, dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini juga menekankan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk menghentikan epidemi obesitas untuk mengurangi beban penyakit kardiovaskular pada seseorang.

*Lanjutannya, klik page 2 yang ada di bawah

Page: 1 2