Tanda-tanda Tubuh Kekurangan Protein

by Ummi on March 22, 2017

Protein merupakan salah satu mineral penting bagi tubuh. Lalu, bagaimana kamu tahu jika kamu tidak mendapatkan cukup protein ? tanda-tanda berikut ini mungkin bisa memberikan indikasi tersebut. Ini adalah daftar umum yang bisa memberikan petunjuk bahwa kamu bisa saja kekurangan protein, namun masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut melalui tenaga professional untuk lebih memastikan hal tersebut :

Sering merasa lapar

Sering mengidam makanan dan selalu ingin ngemil di antara waktu makan dapat menjadi konsekuensi dari tidak cukupnya protein dan terlalu banyaknya karbohidrat olahan, karena protein berfungsi menyeimbangkan kadar gula darah yang tinggi dan rendah. Selalu ingin yang manis-manis, adalah yang paling umum – pada kenyataannya, itu biasanya menjadi salah satu tanda pertama.

Kamu mungkin menginginkan makanan manis lebih dari yang seharusnya, dan juga merasa seolah-olah kamu tidak pernah cukup puas. Meskipun kamu mungkin akan berpikir bahwa kekurangan protein akan memicu untuk meraih makanan seperti burger atau steak, namun sebagai salah satu fungsi yang paling penting dari protein adalah membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, itu artinya ketika nutrisi tersebut kurang, maka gula darahmu akan memenuhi semua tempat – sehingga memicu dorongan untuk meraih makanan yang manis-manis seperti permen atau cookies.

Meskipun makanan tinggi protein kadang-kadang lebih tinggi kalorinya daripada karbohidrat, mereka meningkatkan rasa kenyang lebih dari makanan yang sejenis, yang membantu mencegah ngemil dan makan berlebihan, sambil membantu untuk menstabilkan gula darah. Yang memungkinkan seseorang untuk mempertahankan lebih banyak otot, yang membakar lebih banyak kalori sehari-hari dan dapat mengurangi rasa lapar juga.

Susah konsentrasi

Memiliki kadar gula darah yang seimbang penting bagi banyak fungsi seluruh tubuh, termasuk kemampuan untuk tetap fokus. Ketika level gula darah naik dan turun seperti roller coaster di sebagian besar waktu, akan sulit bagi kita untuk berpikir dan bertindak bahkan dalam tugas-tugas dasar, yang dikenal sebagai istilah “brain fog.” Itu karena aliran karbohidrat diperlukan untuk memicu otak, dan makan protein saat makan membantu untuk mengatur pelepasan karbohidrat sehingga kamu akan mendapatkan aliran energi yang stabil bukannya lonjakan yang naik turun. Mengandalkan makanan seperti roti atau biskuit untuk mendapatkan energi hanya akan memberikan peningkatan sekejap yang diikuti oleh brain fog.

Sulit berkonsentrasi, kesulitan belajar dan / atau kurangnya informasi motivasi dapat menjadi tanda bahwa neurotransmittermu yang diperlukan untuk fokus seperti dopamin, epinefrin, norepinefrin, dan serotonin dalam kondisi rendah. Neurotransmiter ini diproduksi di otak menggunakan asam amino, dan penelitian telah menemukan bahwa mengkonsumsi diet seimbang yang mencakup banyak protein juga dapat meningkatkan performa kerja serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan motorik.

Masalah tidur

Insomnia dan kesulitan tidur lainnya terkadang dikaitkan juga dengan kadar gula darah yang tidak stabil, bersamaan dengan produksi serotonin yang lebih rendah dan meningkatnya kortisol. Jika kadar gula darahmu naik turun sepanjang hari, maka itu bisa berlanjut di malam hari.

Kadar kolesterolmu tinggi

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kekurangan protein dalam diet, berarti kamu tidak cukup merasa puas, yang bisa menyebabkan ngemil terus menerus dan memilih makanan yang buruk bagi kesehatan. Kolesterol dan triglesirida yang tinggi tidak hanya disebabkan oleh memakan makanan tinggi lemak namun juga sebagai hasil dari inflamasi yang berlebihan, ketidakseimbangan hormon, dan diet yang tinggi gula olahan. Jika kamu cenderung mengganti makanan sumber protein dengan karbohidrat olahan yang tidak sehat seperti produk kemasan siap pakai, maka kolseterolmu cenderung meningkat karena sel dan liver kurang begitu efisien dalam memproses lemak. Penelitian juga menemukan bahwa asupan protein yang rendah dapat melemahkan kerja jantung, menciptakan situasi yang cenderung menyebabkan penyakit jantung bahkan kematian.

Rambutmu mulai cepat rontok

Karena protrein menjadi blok pembangun dari semua sel tubuhmu, termasuk folikel rambutmu, kekurangan protein dapat menyebabkan rambutmu rontok. Saat folikel rambut kuat, mereka membantu menguatkan akar rambut. Namun jika kamu kekurangn protein yang kronis, maka helai rambut akan mulai melemah.

Siklus menstruasi yang tidak teratur

Karena diet yang rendah protein dan tinggi gula serta karbohidrat dapat berkontribusi pada peradangan, kelelahan, insulin dan berat badan yang berlebihan, maka hal tersebut dapat menyebabkan gangguan dalam keseimbangan hormon wanita seperti DHEA, estrogen, dan progesteron yang penting untuk mempertahankan siklus menstruasi yang teratur.

Kamu sering sakit

Sering mengalami sakit adalah tanda lemahnya system daya tahan tubuh, dan protein diperlukan dalam rangka membangun semua zat yang ada di dalam system imun. Jika kamu merasa tampaknya kamu sering sakit terus menerus, entah itu demam, flu atau infeksi, dan kamu dinyatakan dalam kesehatan yang baik, maka itu mungkin disebabkan kekurangan protein.

Protein adalah komponen kunci dari sistem kekebalan tubuh, yang terdiri dari sel-sel darah putih, protein darah, antibodi dan berbagai molekul kekebalan tubuh seperti interferon, interleukin, kemokin, dan sitokin. Protein ini bekerja sama untuk melawan penjajah asing tubuh yang mungkin dialami, termasuk yang biologis seperti bakteri dan virus, serta ancaman kimia atau fisik seperti telusupan di kaki atau racun dalam makanan, air, udara yang kamu hirup, produk pembersih, asap rokok dan masih banyak lagi. Ketika dietmu tidak menyertakan protein yang mencukupi, maka hal itu mekompromikan kemampuanmu untuk memproduksi molekul kekebalan tubuh untuk menangani bahaya ini dan bisa mengakibatkan infeksi atau sakit yang lebih erring dan parah.

Kesehatan tulang yang buruk

Banyak sedikitnya yang kamu dapatkan, juga mempengaruhi kadar kalsium tubuhmu. Jika kamu mengkonsumsi diet terlalu rendah protein, itu bisa secara negative mempengaruhi kemampuan saluran cernamu untuk menyerap kalsium, yang mengakibatkan ekskresi kalsium yang lebih tinggi ke urin.