Tips Berpuasa Bagi Penderita Diabetes

by Ummi on June 12, 2016

Diabetes adalah salah satu kondisi kesehatan yang terjadi ketika gula dalam darah melonjak sebagai akibat dari kekurangan hormone insulin atau adanya resistensi sel tubuh yang menyebabkan akumulasi glukosa dalam darah.  Pasien dengan kadar gula darah yang tinggi biasanya akan mengalami polyuria (sering buang air kecil), atau mereka akan sangat mudah haus (polydipsia) dan lapar (polyphagia).

Pasien diabetes yang menjalani puasa selama bulan Ramadhan juga cenderung memiliki risiko besar mengalami komplikasi kesehatan. Untuk itu, mereka sebaiknya menjalani puasa jika dokter sudah mempertimbangkan bahwa mereka dalam kondisi fit untuk berpuasa. Menurut pakar kesehatan, adanya jeda panjang antara jadwal makan yang berkisar antara 12 hingga 15 jam selama puasa bisa menyebabkan perubahan metabolik dalam tubuh, yang bisa mengakibatkan masalah kesehatan serius bagi pasien diabetes.

“Jika kamu penderita diabetes, namun tetap ingin menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, maka selalu lebih baik untuk berkonsultasi dengan doktermu terlebih dulu untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan saat puasa,” ujar Vikas Ahluwalia, Direktur (Diabetes dan Obesitas Center) di Rumah Sakit super khusus Max.

Pembatasan asupan cairan selama berpuasa tersebut dapat mengakibatkan dehidrasi serta fluktuasi kadar gula. “Puasa panjang, dikombinasikan dengan asupan makanan dua-tiga kali selama kurun waktu singkat dapat menyebabkan fluktuasi luas dalam kadar gula,” terang Rakesh Kumar Prasad, Konsultan Senior (Departemen Endokrinologi) di Rumah Sakit Fortis, Noida.

Penderita diabetes ketika berpuasa juga bisa mengalami hypoglikemia (penurunan tiba-tiba kadar gula darah) yang bisa menyebabkan kejang dan pingsan atau hiperglikemia ( peningkatan gula darah ) yang dapat menyebabkan penglihatan kabur, sakit kepala, meningkatkan kelelahan dan kehausan.

Penderita diabetes tipe 1, atau orang yang memiliki riwayat hipoglikemia berulang, berada pada risiko yang lebih tinggi jika mereka menjalani puasa. “Pasien diminta untuk memantau kadar glukosa darah mereka secara berkala. Dalam kasus seorang pasien yang mengandalkan insulin, maka mungkin ada kebutuhan untuk mengubah dosis nya,” papar Shehla Shaikh, Konsultan (Ahli endokrinologi) dari Rumah Sakit Wockhardt Mumbai.

Tutur para dokter, kondisi penderita diabetes bisa bertambah buruk dengan adanya komplikasi yang mengancam jiwa yang disebut dengan ‘diabetic ketoacidosis’, sebuah komplikasi serius di mana tubuh memproduksi asam darah (ketone) yang berlebih dan bisa menyebabkan muntah, dehidrasi, nafas tersendat, linglung, bahkan koma. Mereka juga bisa mengalami trombosis, yang bisa mengakibatkan pembentukan gumpalan darah.

“Dokter dan pasien harus bisa bekerja sama tentang bagaimana mengatur jadwal obat dan diet sehingga diabetes bisa dikelola secara efektif selama 30 hari menjalani puasa Ramadan,” ujar Dr. A. Ramachandran, pendiri Rumah Sakit Diabetes Chennai. Idealnya, seseorang harus berkonsultasi dengan dokter di satu bulan sebelum puasa dan mengikuti saran diet yang diberikan, dosis insulin dan obat-obatan lainnya yang diresepkan, saran dokter A. Ramachandran.

Jadi penting bagi pasien diabetes untuk mengontrol asupan makanan tinggi karbohidrat, karena mereka bisa mempengaruhi tingkat gula terutama bagi orang-orang dengan diabetes tipe 2. Konsumsi karbohidrat seperti gula, gula batu, gula aren, madu dan susu kental manis harus dibatasi. Namun, karbohidrat dengan indeks glikemik rendah seperti nasi merah, roti gandum utuh dan sayuran merupakan pilihan yang lebih baik daripada nasi putih, roti gandum yang tak utuh atau kentang.

Selama berusaha menaklukkan puasa seharian penuh, tubuh perlu terhidrasi dengan baik dan salah satunya adalah dengan meminum minuman bebas gula dan tanpa kafein. “Sangat penting bagi penderita diabetes untuk mengambil gula alami dalam bentuk buah bukannya jus,” kata ahli diet dan ahli gizi terkenal Ritika Samaddar.

Pada saat sahur,penderita diabetes harus makan makanan dalam jumlah kecil. Hindari permen, gorengan dan makanan yang memiliki kadar garam atau gula yang tinggi. Juga, orang tidak boleh tidur segera setelah makan malam. Interval dua jam minimum harus dipertahankan. “Sangat penting untuk mengambil makanan yang seimbang dengan 20 persen sampai 30 persen berupa protein. Ide yang bagus untuk menyertakan buah-buahan, sayuran dan salad di menu makanan dan menggunakan metode memasak sehat seperti memanggang dan membakar,” tandas Ramachandran. Makanan sahur harus mencakup lebih banyak protein dan sedikit karbohidrat dengan banyak buah-buahan, roti gandum, sereal gandum rendah gula, kacang-kacangan dan lentil.

“Gabungkan makanan sahur dengan protein seperti telur yang secara bertahap akan melepaskan energi sepanjang hari. Untuk bisa bertahan sepanjang hari, makanan sehat yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak sehat adalah penting,” jelas Samaddar.”Untuk pasien diabetes, keputusan untuk berpuasa harus dilakukan setelah menimbang-nimbang panduan agama tentang pengecualian orang yang boleh tidak berpuasa dan setelah konsultasi medis untuk memastikan puasa Ramadan yang aman dan sehat,” kata Ahluwalia.